- Sastra Remaja Membentuk Karakter
Sastra Indonesia merupakan cermin kehidupan Indonesia dan identitas serta kemajuan peradaban bangsa Indonesia. Berbagai perubahan yang terjadi di suatu negara, seperti Ilmu Pengetahuan dan kebudayaan serta teknologi informasi maupun akibat peristiwa alam merupakan bagian inspirasi di dalam penulisan karya sastra. Sastra di Indonesia berkembang dengan sangat cepat, terutama sastra remaja “teenlit” pada tiga-empat tahun terakhir ini. Dunia perbukuan kita dibanjiri oleh novel-novel pop remaja berlabel teenlit tersebut. Seperti yang dikatakan salah satu pakar sastra, Budi Darma bahwa hampir setiap hari lahir 15 novel yaitu teenlit dan ciklit. Tak heran jika akhir-akhir ini novel-novel teenlit penjualannya menduduki peringkat atas atau masuk dalam kategori best seller di toko buku di berbagai kota untuk buku-buku jenis fiksi.
Satu sisi, ini merupakan gejala yang menggembirakan karena dunia penulisan novel-novel lokal kembali menggeliat. Hal ini jelas sebuah perkembangan positif. Cerita-cerita ringan yang umumnya bertema cinta monyet itu, ternyata bukan saja memiliki banyak pembaca, namun juga telah melahirkan banyak penulis baru. Kondisi yang ada sekarang ini memang sudah jauh lebih baik daripada era delapan puluhan, misalnya, ketika itu dunia pernovelan hanya 'dikuasai' oleh nama seperti : Mira W, Marga T, dan Maria A.Sardjono. Karya mereka merajai rak toko-toko buku, berkali-kali dicetak ulang. Bahkan, hingga kini, kita masih dengan mudah mendapatkan novel-novel tersebut di toko buku.
Hikmah yang dapat dipetik dari realitas di atas, ledakan penulisan buku-buku teenlit dan tradisi pembukuan naskah skenario dan roman latar film, pada taraf tertentu dapat dikatakan sebagai gejala kebangkitan yang cukup melegakan. Kesemarakkan karya fiksi serta menjamurnya penulis-penulis muda adalah juga buah dari persinggungan kreatif dunia film dan buku. Keadaan dinamis ini telah pula melahirkan pergeseran budaya yang signifikan. Belantika baca-tulis yang semula dipinggirkan perlahan mulai bergerak ke tengah dan diterima banyak lapisan. Remaja, lebih-lebih yang terbiasa dengan tradisi penulisan buku harian dan majalah dinding, menjadi semakin semangat berkreasi.
Ada segi positif, ada pula segi negatif. Segi negatif seperti yang telah diungkapkan sedikit di atas kebanyakan teenlit bertemakan kisah cinta walaupun tidak semua. Dan hal tersebut sangat digemari oleh para pembaca remaja. Selain itu, budaya-budaya asing lebih sering ditonjolkan daripada budaya lokal yang sangat bertolak belakang dengan keadaan negara kita pada saat ini dan para pembacanya pun berasal dari seluruh kalangan.
Gejala munculnya pengaruh budaya asing pada media elektronik, media masa, dan tempat umum menunjukkan perubahan perilaku masyarakat dalam kehidupan masa kini. Kesemuanya menghasilkan karya sastra. Gejala krisis moral yang berkaitan dengan kecenderungan negatif yang dialami remaja kita saat ini sebagai akibat globaisasi itu berkaitan dengan adanya novel-novel remaja dijadikan sebagai area bisnis, terutama untuk meningkatkan penghasilan sampingan yang tentunya sangat menguntungkan. Dengan demikian, novel-novel remaja –teenlit--berpengaruh dengan pembentukan karakter remaja.
Remaja, Karakteristik, dan Perkembangannya. Remaja adalah anak-anak yang dalam fase mencari identitas. Di dalam KBBI pengertian remaja adalah mulai dewasa. Memahami anak remaja diketahui mereka sedang berkembang, senang meniru, dan kreatif. Dunia remaja itu adalah dunia yang penuh dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Beberapa dari sebagian remaja menyalurkan rasa ingin tahunya itu dengan eksis dalam bidang musik, sehingga mereka bisa mengembankan apa yang mereka ingin ketahiu dari musik tersebut. Adapula yang menyalurkannya dengan menulis, dan lain sebagainya.
Tiga karakterisitik dasar yang harus dimiliki tiap individu masyarakat masa depan yang bermartabat adalah kepekaan, kemandirian, dan tanggung jawab.






1 komentar:
bak bisa mntak bntuan nggk? cara bwt pragraf eksposisi
Posting Komentar